Salam Salam.....

Selasa, 28 Januari 2014

HAFLAH HOTMIL QUR'AN YG KE 2

ANAK SOLEH

Al-Khansa, Ibu Para Syuhada

Pada masa Jahiliyah tersebutlah seorang penyair wanita ulung bernama al-Khansa. Syair-syairnya begitu memikat. Simaklah syiar ratapan terbaik yang pernah diciptakannya , sesaat setelah kematian saudaranya yang bernama Shakr
Al-Khansa bernama Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid. Cahaya Islam yang ditebarkan Rasulullah di Jazirah Arab telah mengetuk pintu kesadarannya. Bersama beberapa orang dari kaumnya, sang penyair menghadap Rasulullah SAW. Ia menyatakan keislamannya dan bertekad membangun aqidah tauhid. 

Sang penyair pun menjadi seorang Muslimah yang baik. Ia pun menjadi salah seorang Muslimah teladan sekaligus figur cemerlang dalam keberanian dan kemuliaan diri. Al-Khansa menjadi teladan mulia bagi para ibu Muslimah.
Suatu ketika Rasulullah SAW memintanya bersyair. Pemimpin terbaik sepanjang zaman itu mengagumi bait-bait syair al-Khansa'. Ketika al-Khansa sedang bersyair, Rasulullah SAW berkata, "Aduhai, wahai Khansa, hariku terasa indah dengan syairmu."

Suatu ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, mereka berkata, "Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, serta orang yang paling pandai berkuda."

Rasulullah SAW bersabda, "Siapakah mereka itu. Sebutkanlah namanya." Adi menjawab, "Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umruul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Thai, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Madikariba."

Rasulullah SAW berkata, "Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah SAW, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib."

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan dan pendidikan di bawah naungannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Al-Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada.

Ia adalah seorang ibu yang tegar. Al-Khansa telah berhasil mendidik keempat anaknya. Kelak keempat anak lelakinya gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah al-Khansa. 

Keempat anaknya itu ingin turut berperang melawan tentara Persia. Mereka saling berdebat menentukan siapa yang harus tinggal di rumah mendampingi sang bunda. Perdebatan itu akhirnya sampai di telinga al-Khansa. 

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab RA, al-Khansa akhirnya berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, sesaat dua para pasukan siap berperang, al-Khansa mengumpulkan keempat putranya. Ia memberikan petuah, bimbingan serta mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan buah hatinya tetap istiqamah berperang di jalan Allah dan mengharapkan syahid.

Dengan penuh ketegaran al-Khansa bertutur,'' "Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan dan tanpa paksaan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada Illah selain Dia.'' Ia lalu melepas anak-anaknya dengan penuh haru dan ikhlas.

Hingga akhirnya, berita syahidnya empat bersaudara itu sampai di telinganya. Kesabaran dan keikhlasan tak membuatnya sedih ketika mendengar kabar itu. "Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya".

Umar bin Khattab paham betul keutamaan al-Khansa dan putra-putranya. Khalifah Umar senantiasa memberikan bantuan yang menjati jatah keempat anaknya kepada al-Khansa, hingga ibu para syuhada itu wafat. Al-Khansa meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan RA, pada tahun ke-24 Hijriyah.(rpb) 




Sumber: Facebook

Kisah mengenai Uwais al-Qarni

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita mengenai Uwais al-Qarni tanpa pernah melihatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin al-Khaththabradhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”
Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu telah menjadi Amirul Mukminin, dia bertanya kepada para jamaah haji dari Yaman di Baitullah pada musim haji, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?” “Ada,” jawab mereka.
Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”
Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!”
Dan setiap tahun Umar radhiyallahu ‘anhu selalu menanti Uwais. Dan kebetulan suatu kali dia datang bersama jemaah haji dari Yaman, lalu Umar radhiyallahu ‘anhu menemuinya. Dia hendak memastikannya terlebih dahulu, makanya dia bertanya, “Siapa namamu?”

“Uwais,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’

Dia menjawab, “Dari Qarn.”

“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar radhiyallahu ‘anhu.

Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”

“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’

Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”

“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar radhiyallahu ‘anhu.

“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga saya diberi kesembuhan.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”

Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mohonkanlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku!”

Dia berkata, “Masa saya memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?”

Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya.”

Umar radhiyallahu ‘anhu meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga Uwais memohonkan ampun untuknya.

Selanjutnya Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji.

Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”

Uwais berkata, “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya.
Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

HAJI

***
Hadits ke-1
 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda: "Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada pahala bagi haji mabruru kecuali surga." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-2
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kaum wanita itu diwajibkan jihad? Beliau menjawab: Ya, mereka diwajibkan jihad tanpa perang di dalamnya, yaitu haji dan umrah." Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan lafadz menurut riwayatnya. Sanadnya shahih dan asalnya dari shahih Bukhari-Muslim.
Hadits ke-3
Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, beritahukanlah aku tentang umrah, apakah ia wajib? Beliau bersabda: "Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu." Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf. Ibnu Adiy mengeluarkan hadits dari jalan lain yang lemah, dari Jabir Radliyallaahu 'anhu berupa hadits marfu': Haji dan umrah adalah wajib.
Hadits ke-4
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? beliau bersabda: "Bekal dan kendaraan." Riwayat Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim. Hadits mursal menuru pendapat yang kuat.
Hadits ke-5
Hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar. Dalam sanadnya ada kelemahan.
Hadits ke-6
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah bertemu dengan suatu kafilah di Rauha', lalu beliau bertanya: "Siapa rombongan ini?" Mereka berkata: Siapa engkau? Beliau menjawab: "Rasulullah." Kemudian seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya: Apakah yang ini boleh berhaji? Beliau bersabda: Ya boleh, dan untukmu pahala." Riwayat Muslim.
Hadits ke-7
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Adalah al-Fadl Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhududuk di belakang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu seorang perempuan dari Kats'am datang. Kemudian mereka saling pandang. Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memalingkan muka al-Fadl ini ke arah lain. Perempuan itu kemudian berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya haji yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya itu turun ketika ayahku sudah tua bangka, tidak mampu duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku berhaji untuknya? Beliau menjawab: "Ya Boleh." Ini terjadi pada waktu haji wada'. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
Hadits ke-8
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, lalu berkata: Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji, dia belum berhaji lalu meninggal, apakah aku harus berhaji untuknya? Beliau bersabda: "Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu menanggung hutang, tidakkah engkau yang membayarnya? Bayarlah pada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati." Riwayat Bukhari.
Hadits ke-9
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda: "Setiap anak yang haji kemudian setelah baligh, ia wajib haji lagi; dan setiap budak yang haji kemudian ia dimerdekakan, ia wajib haji lagi." Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Baihaqi. Para perawinya dapat dipercaya, namun kemarfu'an hadits ini diperselisihkan. Menurut pendapat yang terjaga hadits ini mauquf.
Hadits ke-10
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika khutbah bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya." Berdirilah seorang laki-laki dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut perang ini dan itu. Maka beliau bersabda: "Berangkatlah dan berhajilah bersama istrimu." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim

Hadits ke-21
Dari Khollad Ibnu al-Saib, dari ayahnya Radliyallaahu 'anhu bahwa RasulullahShallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jibril datang kepadaku, lalu memerintahkanku agar aku menyuruh sahabat-sahabatku mengeraskan suara mereka dengan bacaan talbiyah." Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Hadits ke-22
Dari Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallammengganti pakaian untuk ihram, lalu mandi. Hadits hasan riwayat Tirmidzi.
Hadits ke-23
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallampernah ditanya tentang pakaian yang boleh dipakai oleh orang yang berihram. Beliau bersabda: "Tidak boleh memakai baju, surban, celana, penutup kepala, dan sepatu kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, ia boleh menggunakan sepatu, namun hendaknya ia memotong bagian yang lebih bawah dari mata kaki. Dan jangan memakai pakaian yang diolesi dengan minyak za'faran dan wares." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.
Hadits ke-24
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku pernah memberi wewangian RasulullahShallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk ihramnya sebelum berihram dan untuk tahallul-nya sebelum melakukan thawaf di Ka'bah. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-25
Dari Utsman Ibnu Affan Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan menikah, menikahkan, dan melamar." Riwayat Muslim.
Hadits ke-26
Dari Abu Qotadah al-Anshory Radliyallaahu 'anhu tentang kisahnya memburu keledai liar di saat tidak mengenakan ihram. Ia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda kepada para shahabatnya ketika mereka sedang mengenakan ihram: "Apakah ada seseorang di antara kalian yang menyuruhnya atau memberikan isyarat kepadanya untuk berburu?" Mereka menjawab: "Tidak. Beliau bersabda: "Makanlah sisa daging yang masih ada." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-27
Dari al-Sho'b Ibnu Jatsamah al-Laitsy Radliyallaahu 'anhu bahwa ia pernah menghadiahkan seekor keledai liar kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallamketika berliau berada di Abwa' atau Waddan. Lalu beliau menolaknya dan bersabda: "Sebenarnya kami tidak mengembalikannya kepadamu kecuali karena aku sedang ihram." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-28
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda: "Ada lima binatang yang semuanya jahat, yang boleh dibunuh baik di tanah halal maupun haram, yaitu: kalajengking, burung elang, burung gagak, tikus dan anjing galak." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-29
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah berbekam ketika beliau sedang ihram. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-30
Ka'ab Ibnu Ujrah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku dihadapkan kehadapan RasulullahShallallaahu 'alaihi wa Sallam dan kutu-kutu bertaburan di mukaku. Lalu beliau bersabda: "Aku tidak mengira penyakitmu separah seperti yang kulihat, apakah engkau mampu (berkorban) seekor kambing?" Aku menjawab: Tidak. Beliau bersabda: "Puasalah tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin masing-masing setengah sho," Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-31
Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu berkata: Ketika Allah menundukkan kota Mekkah untuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: "Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Mekkah dari pasukan gajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorang pun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorang pun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada di dalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh di dalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang mengumumkannya; dan barangsiapa terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishash)." lalu Abbas berkata: kecuali tumbuhan idkhir, wahai Rasulullah. Sebab kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda: "Kecuali tumbuhan idkhir." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-32
Dari Abdullah Ibnu Zaid Ibu 'Ashim Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Ibrahim mengharamkan kota Mekkah dan mendoakan untuk penghuninya. Dan aku mengharamkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim mengharamkan kota Mekkah, dan aku mendoakan untuk sho' dan mud-nya seperti yang didoakan Ibrahim untuk penghuni Mekkah." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-33
Dari Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kota Madinah itu tanah haram antara 'Air dan Tsaur." Riwayat Muslim.
Hadits ke-34
Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menunaikan haji dan kami keluar bersamanya. Ketika kami sampai di Dzul Hulaifah, Asma' binti Umais melahirkan, lalu beliau bersabda: "Mandilah dan bercawatlah dengan kain, lalu berihramlah", dan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat di masjid, kemudian naik unta Qoshwa (julukan unta Nabi). Ketika tiba di Baida' beliau bertalbiyah dengan kalimat Tauhid: (artinya = Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Segala puji, nikmat dan kerajaan hanya milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu). Ketika kami sampai di Ka'bah, beliau menjamah Hajar Aswad, lalu thowaf dengan berlari-lari kecil tiga kali dan berjalan empat kali. Kemudian beliau datang ke maqam Ibrahim dan sholat. Setelah itu beliau kembali lagi ke Hajar Aswad dan menjamahnya. Lalu beliau keluar dari pintu menuju Shofa. Ketika sudah mendekat Shofa, beliau membaca: "(Artinya = Sesungguhnya Shofa dan Marwa adalah termasuk syiar agama Allah), aku mulai dengan apa yang dimulai oleh Allah." Lalu beliau menaiki puncak Shofa sehingga dapat melihat Ka'bah. Kemudian beliau menghadap Ka'bah, lalu membaca kalimat Tauhid dan Takbir, dan mengucapkan: "(artinya = Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan-golongan musuh sendirian)". Kemudian beliau berdoa seperti itu tiga kali, lalu turun ke Marwa. Ketika kedua kakinya menginjak tengah-tengah lembah, beliau berlari-lari kecil, dan ketika kami mendaki beliau berjalan biasa menuju Marwa. Beliau berbuat di Marwa sebagaimana yang beliau lakukan di Shofa. Kemudian perawi melanjutkan hadits dan didalamnya disebutkan: Tatkala tiba hari tarwiyah, mereka berangkat menuju Mina dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menaiki kendaraannya. Di tempat itu (Mina) beliau sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh. Kemudian beliau berhenti sejenak hingga matahari terbit, lalu beliau berangkat menuju Arafah, dan beliau telah mendapatkan kemahnya telah dipasang di Namirah. Beliau singgah di tempat tersebut. Ketika matahari tergelincir, beliau menyuruh agar disiapkan unta Qoshwanya dan disiapkanlah unta tersebut untuknya. Beliau ke tengah lembah dan berkhutbah di tengah-tengah manusia. setelah adzan dan qomat beliau sholat Dhuhur. Kemudian qomat dan sholat Ashar, dan beliau tidak melakukan sholat apapun antara keduanya. Lalu beliau menaiki kendaraan menuju tempat wuquf. Beliau merapatkan perut untanya ke batu-batu besar. Beliau berhenti di jalan besar dan menghadap kiblat. Beliau terus wukuf hingga matahari terbenam, awan kuning mulai menghilang dan bola matahari telah benar-benar lenyap, lalu beliau bertolak. Beliau mengencangkan kendali untanya hingga kepala unta itu menyentuh tempat duduk kendaraan. Beliau memberi isyarat dengan tangan kanannya sambil bersabda: "Wahai sekalian manusia, tenanglah, tenanglah." Beliau mengendorkan tali untanya sedikit demi sedikit sehingga unta itu dapat berjalan mendaki. Setibanya di Mudzalifah beliau sholat Maghrib dan Isya' dengan sekali adzan dan dua kali qomat. Beliau tidak membaca tasbih apapun antara keduanya. Kemudian beliau berbaring hingga fajar terbit. Beliau sholat Shubuh tatkala waktu Shubuh sudah tampak jelas dengan adzan dan qomat. Kemudian berangkat dengan kendaraannya, dan ketika sampai di Masy'aril Haram beliau menghadap kiblat, lalu membaca doa, takbir, dan tahlil. Beliau tetap berada di situ hingga terang benderang, lalu beliau bertolah sebelum matahari terbit. Ketika tiba di lembah Muhassir beliau mempercepat kendaraannya sedikit dan memilih jalan tengah yang keluar menuju ke tempat Jumrah Kubra. Setibanya di Jumrah dekat pohon beliau melempar tujuh kali lemparan batu-batu kecil, setiap biji batu sebesar kelingking. Beliau melempar dari tengah-tengah lembah itu. Kemudian beliau menuju tempat penyembelihan dan berkurban di tempat tersebut. Lalu menaiki kendaraan menuju Baitullah untuk melakukan thawaf ifadlah dan sholat Dhuhur di Mekkah. Diriwayatkan oleh Muslim dengan panjang.
Hadits ke-35
Dari Huzaimah Ibnu tsabit Radliyallaahu 'anhu bahwa apabila Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah selesai dari talbiyahnya dalam haji atau umrah, beliau memohon kepada Allah akan ridlo'-Nya dan surga, dan berlindung dengan rahmat-Nya dari api neraka. Riwayat Syafi'i dengan sanad yang lemah.
Hadits ke-36
Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku berkurban di sini dan Mina seluruhnya tampat penyembelihan kurban, maka berkurbanlah di tempat kemah-kemahmu. Aku wukuf di sini dan Arafah seluruhnya tempat wukuf. Aku menginap di sini dan Mudzalifah seluruhnya tempat menginap." Riwayat Muslim.
Hadits ke-37
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam datang ke Mekkah, beliau masuk dari jalan atasnya dan keluar dari jalan bawahnya. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-38
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa ia tidak datang ke Mekkah kecuali setelah bermalam di Dzu Thuwa hingga pagi dan mandi. Ia menyebut hal itu dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-39
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa ia pernah mencium Hajar Aswad dan meletakkan dahi padanya. Diriwayatkan oleh Hakim dengan marfu' dan Baihaqi dengan mauquf.
Hadits ke-40
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Mereka diperintahkan oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam agar berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran antara dua rukun (Hajar Aswad dan rukun Yamani). Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-41
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa apabila ia melakukan thowaf di Baitullah pada thowaf pertama, ia berjalan cepat tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran. Dalam suatu riwayat: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam apabila melakukan thowaf dalam haji atau umrah pada kedatangan pertama, beliau berjalan cepat tiga kali keliling dan berjalan biasa empat kali keliling. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-42
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyentuh bagian Ka'bah kecuali dua rukun Yamani. Riwayat Muslim.
Hadits ke-43
Dari Umar bahwa ia mencium Hajar Aswad dan berkata: Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menciummu, aku tidak akan menciummu. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-44
Abu al-Thufail berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berthowaf di Ka'bah, beliau menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat yang dibawanya, dan mencium tongkat tersebut. Riwayat Muslim.
Hadits ke-45
Ya'la Ibnu Umayyah berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam thowaf berselendangkan kain hijau. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa'i, dan dinilai shahih oleh Tirmidzi.
Hadits ke-46
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Di antara kami ada yang membaca talbiyah dan tidak ada yang melarangnya, dan ada yang membaca takbir dan tidak ada yang melarangnya. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-47
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengutusku untuk membawa barang-barang berat, (atau ia berkata) untuk menyertai perempuan-perempuan yang lemah dari Mudzalifah pada waktu malam. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-48
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Saudah pernah minta izin Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada malam Mudzalifah untuk berangkat lebih dahulu karena dia lemah --yakni berat berjalan-- dan beliau mengizinkannya. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-49
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda pada kami: "Janganlah melempar Jumrah hingga matahari terbit." Riwayat Imam Lima kecuali Nasa'i. Hadits Munqathi'.
Hadits ke-50
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengutus Ummu Salamah pada malam hari raya Kurban, lalu ia melempar Jumrah sebelum fajar, kemudian pergi dan turun (ke Mekkah). Riwayat Abu Dawud dan sanadnya menurut syarat Muslim

Hadits ke-51
Dari Urwah Ibnu Mudlorras Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa mengikuti sholat kami ini --yakni di Mudzalifah-- lalu bermalam bersama kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu ia benar-benar telah wukuf di Arafah malam atau siang maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan kotorannya. Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.
Hadits ke-52
Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang-orang musyrik tidak turun ke Mekkah hingga matahari terbit - dan mereka berkata: Merekalah gunung Tsabir (gunung tertinggi di Mekkah) dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menentang mereka. Maka beliau turun ke Mekkah sebelum matahari terbit. Riwayat Bukhari.
Hadits ke-53
Ibnu Abbas dan Usamah Ibnu Zaid Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selalu tetap membaca talbiyah hingga beliau melempar Jumrah aqabah. Riwayat Bukhari.
Hadits ke-54
Dari Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa ia menjadikan Baitullah sebelah kirinya dan Mina sebelah kanannya dan melempar Jumrah dengan tujuh batu. Ia berkata: Di sinilah tempat diturunkannya surat al-Baqarah kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-55
Jabir Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melempar Jumrah pada hari Raya Kurban saat waktu dluha. Namun setelah itu (beliau melemparnya) bila matahari tergelincir. Riwayat Muslim.
Hadits ke-56
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa ia melempar Jumrah ula dengan tujuh batu kecil, ia mengiringi dengan takbir pada setiap lemparan, kemudian maju dan mencari tanah yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian berdoan dengan mengangkat tangannya dan berdiri lama. Lalu melempar jumrah wustho, kemudian mengambil arah kiri untuk mencari tempat yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri lama. Kemudian melempar Jumrah aqabah dari tengah lembah. Ia tidak berdiri di situ dang langsung kembali. Ia mengatakan: Beginilah aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melakukannya. Riwayat Bukhari.
Hadits ke-57
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallamberdoa: Ya Allah rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya." Mereka bertanya: Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah. Beliau berdoa dalam yang ketiga: "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-58
Dari Abdullah Ibnu Amar al-'Ash Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berhenti pada haji wada' dan orang-orang saling bertanya kepada beliau. Seorang laki-laki bertanya: Aku tidak sadar, aku telah mencukur sebelum menyembelih kurban. Beliau bersabda: "Sembelihlah kurban, tidak apa-apa." Pada hari itu beliau tidak di tanya dengan sesuatu yang didahulukan dan diakhirkan kecuali beliau menjawab: "Kerjakanlah, tidak apa-apa." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-59
Dari al-Miswar Ibnu Mahramah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyembelih kurban sebelum mencukur dan menyuruh para shahabat untuk melakukan demikian. Riwayat Bukhari.
Hadits ke-60
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda: "Bila telah selesai melempar dan mencukur, maka dihalalkan untukmu memakai wewangian dan segala sesuatu kecuali perempuan." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Dalam sanadnya ada kelemahan

Hadits ke-61
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda: "Tidak ada kewajiban mencukur bagi perempuan, namun mereka cukup memendekkannya." Riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan.
Hadits ke-62
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Abbas Ibnu Abdul Mutthalib memohon izin kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk menginap di Mekkah pada malam-malam yang seharusnya berada di Mina karena tugasnya memberi air minum kepada Jemaah Haji, lalu beliau mengizinkannya. Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-63
Dari Ashim Ibnu Adiy bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memberikan keringanan pada para pengembala unta untuk bermalam di luar kota Mina, mereka melempar pada hari raya Kurban, mereka melempar besok dan besok lusa untuk dua hari, kemudian mereka melempar pada hari nafar (tanggal 14). Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Hadits ke-64
Abu Bakrah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallammemberi khutbah kepada kami pada hari raya Kurban. Hadits Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-65
Sarra' Bintu Nabhan Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memberi khutbah kepada kami pada hari ruus (hari ke-2 dari hari raya Kurban), beliau bersabda: "Bukankah ini pertengahan hari-hari tasyrik?". Hadits riwayat Abu Dawud dengan sanad Hasan.
Hadits ke-66
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda padanya: "Thowaf-mu di Baitullah dan sa'imu antara Shofa dan Marwa telah cukup bagimu untuk haji dan umrahmu." Riwayat Muslim.
Hadits ke-67
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak berlari-lari kecil dalam tujuh putaran pada thowaf ifadlah. Riwayat Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim.
Hadits ke-68
Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya', kemudian tidur sejenak di desa Muhashob, lalu naik kendaraan menuju Baitullah dan thowaf. Riwayat Bukhari.
Hadits ke-69
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa ia tidak berbuat demikian, yakni singgah di desa Abthah, dia mengatakan: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam singgah di tempat tersebut hanyalah karena tempat itu paling mudah bagi beliau untuk keluar (dari Mekkah menuju Madinah). riwayat Muslim.
Hadits ke-70
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang-orang diperintahkan agar akhir dari ibadah haji mereka adalah thowaf di Baitullah, tetapi diberikan kelonggaran bagi perempuan haid. Muttafaq Alaihi

Hadits ke-71
Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallambersabda: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.
Hadits ke-72
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah terhalang, lalu beliau mencukur rambut kepalanya, bercampur dengan istrinya, dan menyembelih kurbannya hingga berumrah tahun depan. Riwayat Bukhari.
Hadits ke-73
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke rumah Dluba'ah bintu al-Zubair Ibnu Abdul Mutthalib, lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin menunaikan haji, namun aku sakit. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berhajilah dan tetapkanlah syarat bahwa tempat tahallulku ialah dimana aku terhalang." Muttafaq Alaihi.
Hadits ke-74
Dari Ikrimah, dari al-Hajjaj Ibnu Amar al-Anshory Radliyallaahu 'anhu bahwa RasulullahShallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa patah kakinya atau pincang, maka ia boleh tahallul dan ia wajib haji tahun mendatang." Ikrimah berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas dan Abu Hurairah tentang hadits tersebut. Mereka menjawab: Benar. Riwayat Imam Lima. Hadits hasan menurut Tirmidzi. 

Sumber: Facebook

PONDOK PESANTREN AL-FRUSTASI

***
  1. .Maka marilah kita resapi dan rasakan. karena semua ini di gali dari sumber al-quran, dgn peragaan tata cara lain. insya alloh sejalur dgn nilai-nilai islam 
  2. BECIK KETITIK OLO KETORO
  3. SENG ARAN WONG SUGiH IKU,orak kok sing biso NGEMPERI NDONYO. Nanging sing Aran wong sugih iku wong sing biso NARIMO.   ilmu itu bukan untuk bahan perdebatan melain kan untuk di jalankan & untuk di amalkan.  Jadilah manusia seperti halnya padi semakin tua semakin merunduk, 
  4. MANDINE DONGO SONGKO BENINGE ATI,MANDINE DONGO SONGKO BENERE LAKU4,ONO DNE PANGGONANE ARTO IKU ING PETI,JARAN ONO ING GEDOKAO,PARI ONO ING LUMBUNG,PARI TUMANCEP ONO ING SAWAH LAN OMAH TUMANCEP ONO ING LEMAH. ojo di pikir nik ati,mundak marakno mati. 
  5. WONG LORO OPO WARASE,WONG TURU OPO MELEkE,WONG MATI OPO URIPE. 
  6. Ojo SUSAH YEN LAGI ORAK ONO,LAN OJO BUNGAH YEN LAGI ONO INGATLAH HAI SAUDARAKU !Disana gunung disni gunng,sdang di dsr laut bnyak intan prmata.bgtu pula yg ada di gunung blm lg yg ada dlm bumi. Hai teman-temanku para petani ! Para pedagang&juga para buruh&nelayan, sekarang bukan di akherat,sudah selayaknya mari bersaing &bertanding, boleh olok-mengolok. tuduh menuduh,berdengki iri&ber hasut tamak. TAPI JANGAN SEKALI-KALI KPENTINGAN AKHIRAT DI JUAL DGN DUNIAWI, MARILAH KITA JADIKAN DUNIA UNTUK KEPENTINGAN AKHIRAT DEMI MENGUKUHKAN IMAN. Waloupun aku hanya sbgai hamba tuhan,karena bnyak trjadi di sana/i ISLAM &IMAN Di perdagangkan buat Cari BADOKAN DAN KEDUDUKAN. 
  7. Gudang ilmu gubuk ndonyo,gedung sholawat tambak istighfar penjara nafsu. pendam emosi, bengkel moral, tahan tamak drengki iri DONA SORPES (bodo hino asor tor apes).dunia penuh sandiwara MENUNGSO,SETAN,IBLIS, JIN, LAN DEMIT. Datang tulung pulang Mentung, jika hasil MEMUJA, sbaliknya jika tak hasil malah MENGHINA, itu orang, kalo ada kelihatan, kalo tak ada mudah menghilang. 
  8. Sepiro regane imanmu? Lan sepiro mahabbah serto taqwamu? Wondene tekane ilmu iku songko ati seng murni,manggon ono ing ati,mulo seng ati2.ben ora mati2,lha yen mati oleh ridhane ilahi. 
  9. Jer basuki mowo bea.Sugih tanpo bondo, menang tanpo ngalahno, nggegerno tanpo goro2, juara hebat tanpo sengsoro, ampuh tanpo tirakat, jaduk tnpo poso, KABEH MAU SEBAB ANANE NGALAH LAN NGUDI RIDHO.Dari pada ALIM KITAB NANGING NATAP2 TAMBAH SAMBER NGGELAP, iku keporo pah poh,ngah ngoh nanging nyah nyoh. Yo wong sing ngono iku lho sing dadi kekasihe gusti alloh. 
  10. Wong seng medit,pecirit,bakhil lan uthil,uripe msti bakal kecepit, tur dadi balane ifrit lan demit.senajan ngajine ndremimil, tasbihe podo printil. mekkah medinah dianggep kecil, kitabe nganti podo cuwil, lha wong sing blobo lomo,nyah nyoh mboh ora weroh, uripe mesti bakal mah moh, wahwoh tur dadi balane gusti alloh, senajan deweke katon ngowah-ngowoh. 
  11. Dadio wong sugih sing biso sholeh,ojo pijer ngurusi teleh,lan dadio wong melarat seng kramat,ora susah melumpat-lumpat. Dadio santri sing bekti,ojo wani2. Dadio ulama sing tepak,ojo nerak2.dadio pejabat sing manfaat ojo SEKARAT. 
  12. Sopo sing ihlas menerima tuduhan&hinaan apalagi cobaan....? Sopo seng betah mambu bathang......??? itulah orang yg paling senang &tenang di hari kemudian. 
  13. Wong seng Mbejijat sekarat nanging banjur Tobat,iku lueh Hebat tinimbang imam mesjid nanging Pecirit. KoWE keno PiDAto Ngelek-NGELEK WONG LIAN, NANGING NGELINGONO AWAKMU DHEWE ISIH BOLONG, NGONO KOK PLEKOTA-PLEKOTO. ANAK LAN BOJOMU WAE ISIH KOYOK NGONO, HOLA HOLO LAN PLONGA-PLONGO. Alim KitaB NANGING SAMBERGELAP,  -* GATHUK TOO....??? *- 
  14. WAHAI TEMAN2 ,urip ono ndonyo ojo stengah2.ayo atimu di toto seng genah,sbb iki jaman akeh fitnah.biar jaman berubah, TAPI IMAN JANGAN PULA IKUT BERUBAH. Ngendikane wongkuno senajan ora ceto,tuhan ngabulno,kerono wongkuno ora due ATI NEKO-NEKO,pikiren dwe nek odak mampu ojo di terusne mondak uteke umup. 
  15. -=:[( PEPENGET )]:=- Hai konco2 pd ilingo.dasare menungso ono ndonyo,durumg faham pengertian lahir ugo batin, opomaneh tentang agomo, kandanono koyo opo tntang keapian, psti wae di anggp ke elekan, kerono durung faham,snajan ws fham,sbb iri biso nimbulno benci, ndadekno ora ngerti, kejobo songko iku kuater yen di ungkuli. Lan ngene iki sing ndadekno buntu atine poro menungso, kudu waspodo seng di ilingi jaman semono. 


Sumber: Facebook

SETAN MENJELMA MANUSIA

  • Seorng arif melihat setan dlm keadaan telanjang di tengh2 masyarkat , 
  • Hai mahluk yg tak punya malu mengapa kamu telanjang dihadapan manusia.. tegur sang ARIF. *mereka bukan manusia, mereka adalah kera* 
  • sesungguhnYa sejak lama (AL-GHAZALI) menulis dlm ihya' (dzahaban naas wa baqiayan naas) *telah pergi manusia yg trtinggal hanya kera*
  • "jika kamu ingin melht manusia, ikutlah aku ke pasar, "lanjut sang setan.
  • Orang arif lalu prgi bersma setan ke pasar,  Sesampainya di pasar, setan itu menjelma seorang laki2 dan menuju toko yg paling besar, toko itu hanya menjual permata yg brkualtas tinggi dgn harga yg amat mahal..
  • "coba liat permata itu "kata setan kpd pemilik toko smbil menunjuk prmata yg paling bsar, 
  • Pemlik toko mengmbil permta itu lalu mnyerahknya kpd setan, 
  • ketika permata brpindah ke tangan setan, 
  • pemilk toko mendengr muazin menyerukan, (HAYYA'ALASHSHOLAAH) (marilah shalat) 
  • pemilik toko segera menggambil kembali permatanya, 
  • "kamu pasti setan Karena tak ada yg datang pad waktu seprti ini kecuali setan "kata pmilik toko,
  • kmudian ia mengusir si setan, 
  • Stelah setan pergi, ia lalu menghancurkan permata itu dgn batu " PERMATA INI TIDAK ADA BERKAHNYA,"kata si pemilik toko, 
  • Kmudian Pemilik Toko keluar untuk Melakukan sholat. 

رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ
(LAKI2 YG PERNIAGAAN DAN JUAL BELH TIDAK DAPAT MELALAIKANYA DARI MENGINGAT ALLAH"QS An nur,24:37)
Ada juga:
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.. qs al muzzammil,73:20.


Sumber: Facebook

(QS. al-A'raf: 96).

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A'raf: 96).

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT akan memberikan keberkahan kepada penduduk negeri-negeri, di manapun mereka berada, apabila mereka menjalani keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Jadi berkah dan tidaknya suatu negeri lebih ditentukan oleh keimanan dan ketakwaan individu masyarakatnya dan bukan di tentukan karena sistemnya. adalah sebuah kebohongan apabila ada orang berkata bahwa dengan sistem ini maka hidup akan sejahtera, adil, aman dan sentosa

tanpa disadari orang tersebut telah berbuat lancang dan mendahului ALLAH atas kehendakNYA


Sumber: Facebook

Senin, 20 Januari 2014

HAFLAH KHOTMIL QUR'AN Yg Ke 3

Baliho Untuk HAFLAH KHOTMIL QUR'AN
TPQ ARROHMAH
desa Raji Rt 02 Rw 03
Demak Jawa Tengah
Pada: Tgl 9 Februari 2014_M
tgl 9 Robiul ahir 1435_H
&
Pengajian Umum Maulid Nabi MUHAMMAD SAW
Bersama:
KH. ABDUL QODIR
(mantan GALI)
Dari: Semarang
 Lokasi: 
di TPQ ARROHMAH
&
MUSHOLLA BAITUL MUTTAQIN

sebagian santri Yg Sedang Belajar & mau mengisi acara Pentas seni 
Di acara KHOTMIL QUR'AN Nanti Pada Tanggal 9 Februari 2014
TPQ_ARROHMAH